Serai (Cymbopogon citratus (DC) Stapf)
Cymbopogon citratus (DC) Stapf atau serai wangi merupakan tanaman beraroma khas yang banyak dimanfaatkan sebagai bagian dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA) karena nilai fungsionalnya dalam kehidupan sehari-hari. Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 1–1,5 meter, memiliki daun memanjang berwarna hijau muda dengan permukaan agak kasar, serta sistem perakaran yang relatif pendek dan rapat (Misbah et al., 2021). Secara taksonomi, serai wangi termasuk ke dalam famili Poaceae. Meskipun berasal dari wilayah India dan Sri Lanka, tanaman ini kini telah banyak dibudidayakan dan ditemukan di berbagai daerah di Indonesia karena mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Di Indonesia, serai wangi umumnya ditemukan di pekarangan rumah, kebun, lahan pertanian, serta ditanam sebagai tanaman pembatas atau tanaman obat di lingkungan permukiman (Firmansyah et al., 2025).
Mari kita lebih kenal dengan Tanaman Serai!
Klasifikasi dari Tanaman Serai
Sumber: POWO
A. Morfologi Tanaman Serai
Cymbopogon citratus memiliki sistem perakaran serabut yang kuat dan tebal berasal dari rimpang pendek untuk menopang tanaman serta menyerap air dan unsur hara, batang yang tumbuh berumpun dengan pangkal menyerupai umbi, tersusun dari pelepah daun yang saling membungkus, berwarna putih kekuningan hingga kemerahan, bertekstur lunak namun kaku dan tegak, serta daun hijau tanpa tangkai berbentuk panjang meruncing dengan tulang sejajar, bertekstur agak kasar, bertepi tajam, beraroma khas saat diremas, dan berukuran sekitar 50–100 cm dengan lebar ±2 cm.
Serai memiliki beragam manfaat bagi kesehatan, antara lain membantu menghambat pertumbuhan mikroba sehingga air rebusannya dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan mulut dan meredakan masalah seperti infeksi ringan atau gigi berlubang, berperan dalam membantu mengurangi peradangan sehingga bermanfaat untuk meredakan keluhan flu, nyeri tenggorokan, serta gangguan pencernaan, dan mendukung proses detoksifikasi tubuh melalui peningkatan pengeluaran urin yang membantu membuang kelebihan cairan dan zat sisa, meringankan kerja ginjal, serta menjaga fungsi ekskresi tubuh agar tetap optimal.
Tanaman Serai pertama kali ditemukan di India dan Sri Lanka.
Firmansyah, M. A., Wulandari, N.
V., Widiyana, N., Ella, F. N., & Amal, T. (2025). Optimalisasi TOGA berkelanjutan:
workshop minyak serai sebagai upaya menambah value tanaman serai di Desa
Dadapan Jawa Timur. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 05(02),
123–134.
Lidia, R., Shen, T., Panggabean, S., & Sitohang, E.
S. (2024). Pemanfaatan rebusan serai dalam pengobatan tradisional untuk nyeri
kaki di Posyandu Desa Manen Kaleka tahun 2024. Medical Laboratory Journal,
3.
Misbah, M., Aulia, J. P., Maharani, M., Widhiastuti, E.,
Putri, M. W., Ardila, S., & Tanbiyaskur, T. (2021). Potensi ekstrak batang serai (Cymbopogon
citratus) untuk pengobatan ikan dari bakteri edwarsiella tarda. Prosiding
Seminar Nasional, 782–787.
Powo. (2026). Cymbopogon citratus (DC.) Stapf.
Plants of the World Online.
https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:396896-1


.png)

No comments:
Post a Comment