Tanaman Ciplukan


 Ciplukan (Physalis angulata L.)

Gambar 1. Tanaman Ciplukan
Sumber: Data Primer


Physalis angulata L. atau dikenal sebagai ciplukan merupakan tanaman semusim berbentuk herba yang memiliki ciri khas buah terbungkus kelopak menyerupai lentera kecil. Secara taksonomi, tanaman ini termasuk dalam famili Solanaceae (Sutjiatmo et al., 2020).


Meskipun berasal dari beberapa negara di Amerika, salah satunya Alabama, saat ini ciplukan telah banyak ditemukan dan tumbuh di berbagai wilayah Indonesia. Tanaman ini umumnya tumbuh liar dan mudah dijumpai di area permukiman, lingkungan sekolah, ladang, maupun persawahan. Walaupun sering dianggap sebagai tanaman liar, buah ciplukan diketahui memiliki berbagai manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh (Irma, 2022).



Mari kita kenal lebih kenal dengan tanaman ciplukan!

Klasifikasi dari tanaman ciplukan


   


Sumber: POWO




A. Morfologi Tanaman Ciplukan


Gambar 2. Tanaman Ciplukan
Sumber: Data Primer


Physalis angulata L. memiliki akar serabut bertipe adventif yang berbentuk silindris memanjang berwarna putih dan berfungsi menopang serta menyerap air dan unsur hara, batang tegak setinggi ±0,1–1 meter berwarna hijau dengan permukaan beralur dan penampang segi empat serta bercabang simpodial, daun tunggal bertangkai berbentuk lanset dengan ujung meruncing, tepi bergelombang halus, pertulangan menyirip, permukaan licin berwarna hijau dengan panjang sekitar 5–15 cm, bunga tunggal yang tumbuh di ketiak daun berbentuk aktinomorfik dengan kelopak hijau dan mahkota putih kekuningan serta memiliki lima benang sari dan satu putik, serta buah semu tunggal berbentuk bulat berwarna kuning saat masak yang terbungkus kelopak membesar menyerupai lentera.


B. Manfaat Tanaman Ciplukan

Physalis angulata L. secara tradisional telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, seperti sembelit, bisul, gusi berdarah, nyeri perut, gangguan saluran kemih, kencing manis, penyakit kuning, serta radang saluran pernapasan (Sutjiatmo et al., 2020). Seluruh bagian tanaman ini diketahui memiliki kegunaan, di mana akarnya sering dimanfaatkan untuk membantu menurunkan demam dan mengatasi kecacingan, daunnya digunakan untuk membantu penyembuhan patah tulang, keseleo, bisul, borok, serta gangguan perut, sedangkan buahnya dimanfaatkan untuk membantu mengatasi epilepsi, kesulitan buang air, dan penyakit kuning. Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ciplukan berpotensi mendukung kesehatan tubuh karena memiliki aktivitas yang membantu menjaga kadar gula darah, melawan mikroorganisme, meningkatkan daya tahan tubuh, meredakan peradangan, serta berperan sebagai antioksidan.

 

C. Persebaran Tanaman Ciplukan

Tanaman ciplukan mulai tersebar di beberapa negara, yaitu Alabama, Argentina Timur Laut, Argentina Barat Laut, Arizona, Arkansas, Aruba, Bahama, Belize, Bolivia, Brazil Utara, Brazil Timur Laut, Brazil Selatan, Brazil Tenggara, California, Colombia, Florida, Prancis, Galapagos, Georgia, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Jamaika, Louisiana, Meksiko Timur Laut, Barat Laut, Meksiko Tenggara, Meksiko Barat Daya, Belanda, Carolina Utara, Oklahoma, Panama, Paraguay, Peru, Suriname, Tennessee, Texas, Uruguay, Venezuela, Virginia.


Gambar 3. Peta Persebaran
Sumber: POWO






Sumber: 

Cindi, M. Y., Gustian, Sutoyo, & Elara, R. (2024). Kajian keanekaragaman morfologi ciplukan (Physalis angulata L.) di kecamatan sungai limau, padang pariaman. Prosiding Seminar Nasional PERHORTI, September, 17–18.

Irma, L. S. (2022). Pemanfataan ciplukan (Physalis angulata) sebagai tanaman obat hipertensi di Desa Mohili Kecamatan Amandraya Kabupaten Nias Selatan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Keguruan, 1(2), 119–127.

Powo. (2026). Physalis angulata L. Plants of the World Online. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:195334-2

Sutjiatmo, A. B., Sukandar, E. Y., Ratnawati, Y., Kusmaningati, S., Wulandari, A., Narvikasari, S., Farmasi, J., Jenderal, U., & Yani, A. (2020). Efek antidiabetes herba ciplukan (Physalis angulata L.) pada mencit diabetes dengan induksi aloksan. Jurnal Farmasi Indonesia, 5(4), 166–171.




No comments:

Post a Comment